Impor Obat 92 Persen, Indonesia Gandeng Inggris Lakukan Riset Penyakit Menular

8
Menristekdikti Mohamad Nasir di Gedung D Kemenristekdikti/Vertanews/Anisa Carera Sitepu

Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan (Kemenristekdikti) menggandeng Departemen Bisnis, Energi dan Strategi Industri Inggris melalui Newton Fund mengadakan riset kerjasama untuk penyakit menular.

Proyek ini diharapkan bisa menciptakan obat anti bodi sejumlah penyakit menular yang menjadi momok masyarakat Indonesia. Agar nantinya bisa meminimalisir import obat yang kini masih mencapai 92%.

“Kita kesehatan itu problem loh, bayangkan 92% itu obat kita impor bahan bakunya. Bagaimana obat itu bisa dipenuhi dalam Negeri, kalo itu bisa dipenuhi dalam Negeri biaya kesehatan kita akan lebih murah”,kata Mohammad Nasir dalam acara Konferensi pers peluncuran kerjasama Riset Penyakit Menular Indonesia-Inggris melalui Program Newton Fund di Gedung D, Kemenristekdikti, Jakarta, Senin 13 Mei 2019.

Nasir juga memiliki impian kedepannya bila jika Indonesia bisa seutuhnya memproduksi obat-obatan dalam menyebuhkan penyakit kronis. Antara lain HIV-AIDS, TBC, Malaria dan Meningitis otak secara otomatis proses pengobatan rakyat kecil semakin murah.

Hal tersebut secara otomatis berdampak pada optimalisasi program BPJS bagi kaum papa di Indonesia.

“Karena yang problem adalah biaya kesehatan kita mahal sekali sehingga BPJS sendiri tidak mampu membiayai. Terjadi kekurangan terus karena jumlah yang dilayani sangat besar. Kalo obat-obat itu bisa diproduksi dalam Negeri kan kita selesai. Sekarang problem adalah obat itu impor ini masalah,” ujar Mohamad Nasir.

Mantan Rektor Universitas Diponegoro tersebut mengatakan selama ini kemajuan teknologi farmasi di Indonesia sudah cukup terkenal di dunia. Sayangnya, hasil produksi tersebut lebih banyak di hakpatenkan oleh negara di luar Indonesia.

Produksinya dalam Negeri yang punya paten adalah luar Negeri ini masalah. Ini harus kita tingkatkan,” ucap Nasir.

Oleh karena itu, Indonesia tidak mau kecolongan lagi dengan hasil pikiran karya anak negeri di bidang Farmasi yang hanya dibuat namun hak paten dikantongi negara lain. Artinya, Nasir berharap Indonesia bisa menjadi raja di rumahnya sendiri dengan proyek tersebut.

“Riset macam-macam dari berbagai Negara yakni, Amerika Serikat, Jerman serta Inggris. Di Amerika dan Inggris obat-obatan juga banyak , di Cina juga dalam kereta cepat karena cina lebih efisien dalam hal ini, jadi sangat penting. Kita harus berkolaborasi dengan antaranegara itu,” pungkasnya (Anisa Carera Sitepu/DNM)