Kemenristekdikti Sebutkan 6 Riset Penyakit Bakal Didanai Indonesia-Inggris

13
Perjanjian Bilateral Riset Penyakit Menular Indonesia-Inggris/Vertanews/Anisa Carera Sitepu

Pemerintah Indonesia di bawah Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) berkerja sama dengan Pemerintah Inggris dalam riset penyakit menular berjanji bakal mendanai 6 riset penyakit terbaik. Keenam riset ini terpilih dari 22 riset penyakit menular yang ikut pada proposal dana riset.

Enam riset terbaik tersebut adalah menguji molekul cathelicidins yang diproduksi oleh kekebalan tubuh manusia. Kedua adalah memahami peran interaksi binatang dan manusia dalam penyebaran penyakit menular. Pencegahan HIV yang inovatif, baik melalui pelayanan deteksi memadai.

“Pertama adalah modifikasi molekul memerangani demam berdarah. Kedua, penyebaran penyakit menular seperti malaria. Ketiga, Penanganan cepat terhadap pasien HIV agar tidak terkena AIDS. Keempat, Identifikasi TBC,” kata Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir di Gedung D Kementristekdikti, MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin, 13 Mei 2019.

Mohamad Nasir melanjutkan untuk tim riset kelima adanya menyelidiki pemaikaain molekuler yang dapat meningkatkan diagnosa penderita infeksi otak di Indonesia. Mengembalikan uji diagnosa lebih mudah terjangkau.

“Kelima adalah mendiagnosa penderitaan infeksi otak lebih dini. Mengembangkan uji coba diagnosa terjangkau di tahap awal. Mendikteksi penyakit sebelum inkubasi,” ujar Mohamad Nasir.

Dari enam lembaga riset penyakit tersebut kedua negara ini sepakat menyiapkan dana sebesar Rp 37 miliar. Dari dana tersebut setidaknya Rp 32 miliar berasal dari Departemen Bisnis, Energi dan Strategi Industri Inggris melalui Newton Fund. Sementara Pemerintah Indonesia melalui Kemenristekdikti menggelontorkan setidaknya Rp 5 miliar.

“Pendanaan riset ini bertujuan menghasilkan terobosan dalam bidan penyakit menular. Hasil kolaborasi ini akan meningkatkan ketahanan dan kesiapan Indonesia dalam menangani penyakit menular yang mematikan, termasuk melalui intervensi kebijakan maupun pengembangan teknologi farmasi dan inovasi alat medis,” ucap Mantan Rektor Universitas Diponegoro tersebut.

Kepada wartawan Nasir berharap kerjasama tersebut bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak di Indonesia. Salah satunya pemberantasan penyakit menular ataupun tidak menular di Indonesia masih kerap kali terjadi salah satunya adalah demam berdarah.

“Dari data Kementrian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 16.692 kasus demam berdarah di Indonesia per 3 Februari 2019. Harapan saya riset ini bisa menghasilkan inovasi obat-obatan dan teknologi kesehatan,” pungkasnya (Anisa Carera Sitepu/DNM)